Thursday, November 22, 2012

Sumber : voa-islam.com




Knesset Sebut Militer Israel ''Anjing Paranoid''

JERUSALEM (voa-islam.com) - Setelah diakhiri sensor militer pada media dan ditarik tirai suasana perang, mulai bermunculan kritik luas atas kegagalan telak yang dialami pasukan zionis Israel, yang berasal dari para pemimpin terkemuka di entitas Zionis.

Anggota parlemen Knesset Zionis, Aryeh Eldad, mengatakan, "Pengumuman gencatan senjata berarti bahwa Israel mengibarkan bendera putih dan menjadi sasaran terorisme." Dia menambahkan, " Netanyahu telah meminta militer untuk meninggalkan perang, yang tidak lain adalah budak, seperti anjing paranoid.”

Sementara itu anggota Knesset, Michael Ben Ari, telah meminta PM Israel Benyamin Netanyahu untuk mengundurkan diri di tengah kegagalannya mengelola agresi baru ke Jalur Gaza. Dia menuduh Netanyahu telah "menyeret Israel ke dalam kegagalan."

Ketua oposisi Zionis yang juga ketua Partai Kadima, Shaul Mofaz, mengatakan, "Hamas telah menang di babak ini dan Israel adalah yang paling rugi." Dia menambahkan, "Alih-alih mengizinkan tentara Israel bekerja untuk menghancurkan Hamas, pemerintah Netanyahu justru keluar dari invasi ini sambil menyeret ekor secara memalukan, tanpa merealisasikan satu tujuanpun dari operasi militer yang dilancarkan ke Jalur Gaza. Dia meminta Netanyahu harus mengundurkan diri.

Sementara itu semalam, demonstran turun jalan di Ashdod dan Sderot. Mereka meminta Netanyahu untuk mengundurkan diri dan menilai apa yang terjadi adalah kegagalan telak pemerintah Zionis. (by/info palestina)
Sumber : voa-islam.com

Hukum Dan Hikmah Puasa Tasu'a

Oleh: Badrul Tamam
Al-Hamdulillah, segala puji milik Allah, Rabb semesta alam. Shalawat dan salam semoga terlimpah kepada sayyidil Anam, Nabi Muhammad Shallallahu 'Alaihi Wasallam, keluarga dan para sahabatnya.
Disunnahkan untuk menambah puasa 'Asyura dengan puasa pada hari sebelumnya, yaitu tanggal Sembilan Muharram yang dikenal dengan hari Tasu’a. Tujuannya, untuk menyelisihi kebiasaan puasanya Yahudi dan Nashrani.
Diriwayatkan dari Ibnu Abbas Radhiyallahu 'Anhuma, beliau berkata, “Ketika Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam berpuasa pada hari ‘Asyura dan memerintahkan para sahabat untuk berpuasa padanya, mereka menyampaikan, ‘Wahai Rasulullah, sesungguhnya hari itu adalah hari yang diagungkan oleh orang Yahudi dan Nashrani.’ Lalu beliau Shallallaahu 'Alaihi Wasallam bersabda, ‘Kalau begitu, pada tahun depan insya Allah kita berpuasa pada hari kesembilan’. Dan belum tiba tahun yang akan datang, namun Nabi shallallaahu 'alaihi wasallam sudah wafat.” (HR. Muslim, no. 1916)
Berkata Imam al-Syafi’i dan para sahabatnya, Ahmad, Ishaq dan selainnya, “Disunnahkan berpuasa pada hari kesembilan dan kesepuluh secara  keseluruhan, karena Nabi Shallallaahu 'Alaihi Wasallam telah berpuasa pada hari ke sepuluh dan berniat puasa pada hari kesembilan.”
Apa Hikmah Berpuasa Hari Tasu’a?
Imam al-Nawawi rahimahullaah menyebutkan tentang tiga hikmah dianjurkannya shiyam hari Tasu’a: Pertama, maksud disyariatkan puasa Tasu’a untuk menyelesihi orang Yahudi yang berpuasa hanya pada hari ke sepuluh saja.
Kedua, maksudnya adalah untuk menyambung puasa hari ‘Asyura dengan puasa di hari lainnya, sebagaimana dilarang berpuasa pada hari Jum’at saja. Pendapat ini disebutkan oleh al-Khathabi dan ulama-ulama lainnya.
Ketiga, untuk kehati-hatian dalam pelaksanaan puasa ‘Asyura, dikhawatirkan hilal berkurang sehingga terjadi kesalahan dalam menetapkan hitungan, hari ke Sembilan dalam penanggalan sebenarnya sudah hari kesepuluh.
Dan alasan yang paling kuat disunnahkannya puasa hari Tasu’a adalah alasan pertama, yaitu untuk menyelisihi ahli kitab. Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah Rahimahullaah dalam al Fatawa al-Kubra berkata, “Rasulullah Shallallaahu 'Alaihi Wasallam melarang bertasyabbuh dengan ahli kitab dalam banyak hadits. Seperti sabda beliau tentang puasa ‘Asyura,
لَئِنْ عِشْتُ إلَى قَابِلٍ لاَصُومَنَّ التَّاسِعَ
Jika saya masih hidup di tahun depan, pasti akan berpuasa pada hari kesembilan.” (HR. Muslim)
Ibnu Hajar rahimahullaah dalam catatan beliau terhadap hadits, “Jika saya masih hidup di tahun depan, pasti akan berpuasa pada hari kesembilan”, Keinginan beliau untuk berpuasa pada hari kesembilan dibawa maknanya agar tidak membatasi pada hari itu saja. Tapi menggabungkannya dengan hari ke sepuluh, baik sebagai bentuk kehati-hatian ataupun untuk menyelisihi orang Yahudi dan Nashrani. Dan ini merupakan pendapat yang terkuat dan yang disebutkan oleh sebagian riwayat Muslim.” Wallahu Ta'ala A'lam. [PurWD/voa-islam.com]

Thursday, February 17, 2011

Lembaran Jum'atan (edisi ke 2)


Hikmah
Muhammad bin Basyar menceritakan kepada kami, Yahya bin Sa’id mengabarkan kepada kami, dari Syu’bah, dari Qatadah, dari Yunus bin Jubair, dari Muhammad bin Sa’ad bin Abi Waqash, dari ayahnya, ia berkata, Rasulullah SAW bersabda : “Memenuhi perut salah seorang dari kalian dengan nanah lebih baik baginya daripada memenuhinya dengan syair (yang sesat).” Shahih: Ibnu Majah (3759); Muttafaq alaih. Abu Isa berkata, “Hadits ini hasan shahih.”

Saudaraku se-iman!, bahwa syair (yang sesat) merupakan untaian kata-kata yang mendorong syahwat untuk bermaksiat, jauh dari ketaatan kepada Allah SWT. dan Rasulullah SAW., bahkan bisa terjerumus kepada syirik. Syair (yang sesat) bisa terdapat pada lirik lagu, puisi, pantun, bahkan pada untaian kalimat shalawatan. Kalau kita mencintai Rasulullah SAW., maka bershalawatlah dengan shalawat yang diterangkan pada hadits shahih. Salah satu shawalat yang dianjurkan adalah shalawat yang biasa dibaca pada tasyahud dan masih banyak shalawat lainnya yang diterangkan dalam hadits. Jadi mari kita perbaiki diri dengan bershalawat pada Nabi SAW., menurut tuntunan syar’i.

Wassalaamualaikum wr.wb.
Redaksi

Ulasan Dakwah

Valentine’s Day = Penghancuran Aqidah dan Akhlaq
Oleh : Didin Saepudin, M.Ag. dan Solihin
Tinjauan Historis Valentine’s Day
The World Book Encyclopedia (1998) banyaknya versi mengenai Valentine’s Day : Perayaan Lupercalia adalah rangkaian upacara pensucian di masa Romawi Kuno (13-18 Februari). Dua hari  pertama, dipersembahkan untuk dewi cinta (queen of feverish love) Juno Februata. Pada hari ini, para pemuda mengundi nama-nama gadis di dalam kotak. Lalu setiap pemuda mengambil nama secara acak dan gadis yang namanya keluar harus menjadi pasangannya selama setahun untuk senang-senang dan obyek hiburan. Pada 15 Februari, mereka meminta perlindungan dewa Lupercalia dari gangguan srigala. Selama upacara ini, kaum muda melecut orang dengan kulit binatang dan wanita berebut untuk dilecut karena anggapan lecutan itu akan membuat mereka menjadi lebih subur. Ketika agama Kristen Katolik masuk Roma, mereka mengadopsi upacara ini dan mewarnainya dengan nuansa Kristiani, antara lain mengganti nama-nama gadis dengan nama-nama Paus atau Pastor. Diantara pendukungnya adalah Kaisar Konstantine dan Paus Gregory I. Agar lebih mendekatkan lagi pada ajaran Kristen, pada 496M Paus Gelasius I menjadikan upacara Romawi  Kuno ini menjadi hari perayaan gereja dengan nama Saint Valentine’s Day untuk menghormati St. Valentine yang kebetulan mati pada 14 Februari. Kata “Valentine” berasal dari latin yang berarti :”Yang Maha Perkasa, Yang Maha Kuat dan Yang Maha Kuasa”, kata ini ditujukan kepada Nimrod dan Lupercus, tuhan orang Romawi. Oleh karena itu apabila kita meminta orang menjadi  “to be my valentine” artinya menyekutukan Allah SWT., jelas-jelas perbuatan syirik.

Tinjauan Sosiologis
Perayaan valentine’s day mulai membudaya dikalangan masyarakat kita khususnya dikalangan kawula muda, sekitar akhir tahun 1980 an berbarengan dengan munculnya televisi-televisi swasta yang banyak mengupas dan menayangkan berita ataupun film-film yang bertemakan perayaan tersebut. Sejak itulah, perayaan valentine’s day digandrungi oleh para generasi muda, sebagai akibat dari penetrasi budaya asing yang masuk lewat pemberitaan berbagai media baik cetak maupun elektronik. Perayaan ini pun dikenal oleh mereka sebagai perayaan hari kasih sayang, yang menurut mereka adalah momen yang paling tepat untuk mengungkapkan perasaan cinta dan kasih sayang kepada orang-orang yang dekat di hati. Perayaan ini biasanya dilaksanakan di kafe-kafe, hotel-hotel atau tempat-tempat yang romantis, dimana setiap pasangan memberikan hadiah berupa kue coklat atau bunga yang bertuliskan “I wish you will be my valentine” kepada yang lain.
Setelah itu diadakan pesta-pesta dan hura-hura. Ini tidak asing karena budaya ini memang hasil import dari budaya barat yang bersifat permissif (serba boleh) dan hedonis (menurutkan hawa nafsu). Bahkan belakangan ini, pesta perayaan valentine’s day dirayakan dengan perbuatan-perbuatan yang amoral dan jauh dari temanya itu sendiri. Banyak kita dapatkan di pemberitaan televisi maupun koran-koran sekelompok anak muda yang menghabiskan malam perayaan tersebut dengan pesta seks dan narkoba (naudzubillahi min dzalik).

Tinjauan Syar’i
Hati-hati terhadap tipu daya Yahudi dan Nashrani,
“Orang-orang Yahudi dan Nasrani tidak akan senang kepada kamu hingga kamu mengikuti agama mereka. Katakanlah “Sesungguhnya petunjuk Allah itulah petunjuk (yang benar)”, dan sesungguhnya jika kamu mengikuti kemauan mereka setelah pengetahuan datang kepadamu, maka Allah tidak lagi menjadi pelindung dan penolong bagimu” (QS:Al Baqarah (2):120).
Dari Abu Sa’id Al-Khudri dari Nabi SAW beliau bersabda :”Kalian pasti akan mengikuti “sunnah-sunnah” orang sebelum kalian sedikit demi sedikit, sehingga kalaulah mereka masuk ke lubang biawak kalian pasti akan mengikutinya. Kami bertanya: Ya, Rasulullah apakah yang dimaksud itu yahudi dan nashrani ? Beliau menjawab : Siapa lagi !? [HR. Bukhari, 6775].
Turut serta dalam perayaan orang kafir berarti telah berbuat kekufuran yang serupa. Hal ini ditegaskan oleh sabda Nabi SAW :
Dari Ibnu Umar ia berkata, “Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda :”Barang siapa bertasyabuh (menyerupai) dengan suatu kaum, maka ia bagian dari mereka” [HR. Abu Daud:3512].
Satu-satunya teladan kaum Muslimin,
“Sesungguhnya telah ada pada (diri) Rasulullah itu suri teladan yang baik bagimu (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari kiamat dan Dia banyak menyebut Allah” [QS Al Ahzab (33):21].
Dari Hudzaifah r.a. ia berkata, ”Wahai ahli Al Quran, bersikap istiqamahlah kalian, sesungguhnya kamu sekalian (telah membuktikan dengan istiqamah) telah mengejar melebihi umat yang lain dalam kejayaan dan kemajuan dengan sejauh-jauhnya, sebaliknya jika kalian melirik kanan kiri, kalian telah sesat dengan kesesatan yang sangat jauh” [Al Bukhori:6739].

Demikian, semoga bermanfaat.


Referensi
Cicilan Rumah di Jannah (Amal kebaikan dengan balasan rumah di Jannah)
Dari Abu Hurairah r.a. :”Firaun mengikat isterinya dengan empat ikatan, di kedua tangannya dan kedua kakinya. Dan jika mereka meninggalkannya, malaikat melepaskan ikatannya, lalu wanita itu akan berdoa, “Wahai Rabbku, bangunkanlah rumah untukku di Jannah, selamatkan aku dari Firaun dan perbuatannya dan selamatkanlah aku dari orang-orang yang zhalim.” (QS at Tahrim:11) lalu diperlihatkanlah rumahnya di Jannah.” (as Silsilah ash Shahihah 2508).

·       Langkah kaki menuju masjid
Dari Abu Hurairah r.a., Rasulullah SAW. bersabda: “Barangsiapa yang pergi di waktu pagi atau sore menuju masjid, Allah akan siapkan baginya tempat tingggal di jannah, setiap kali dia pergi.” [HR. Bukhari dan Muslim].
·       Shalat Sunah 12 rakaat sehari
Dari Ummul Mukminin, Ummu Habibah, Ramlah binti Abu Sufyan berkata, “Aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “Seorang muslim yang shalat sunah setiap hari sebanyak 12 rakaat dan bukan yang wajib demi mencari ridha Allah, Allah akan membangun rumah untuknya di jannah.” Ummu Habibah berkata, “Sejak itu aku selalu melaksanakan shalat sunah itu.” [HR. Muslim, Abu Daud dan an Nasa’i].
·       Membangun masjid
Dari Utsman bin ‘Affan r.a, manakala orang-orang banyak yang memperbincangkan beliau ketika membangun masjid Rasulullah, beliau berkata, “Kalian sudah berlebihan! aku mendengar Rasulullah SAW. bersabda, “ Barangsiapa membangun masjid karena mencari ridha Allah, Allah akan membangun yang semisal untuknya di jannah. [HR. Bukhari dan Muslim]
·       Mengisi kekosongan shaf
Dari Aisyah berkata,”Rasulullah SAW. bersabda :”Barangsiapa yang mengisi kekosongan (shaf shalat berjamaah), Allah akan mengangkat derajatnya dan membangun baginya rumah di jannah.” (HR. At Thabrani dengan sanad “la ba’sa bihi” dishahihkan al albani dalam as Silsilah ash Shahihah).
·       Menebar salam dan shalat malam
Dari Abu Malik al-Asy’ari dari Nabi SAW., bersabda:”Sesungguhnya di jannah ada ruangan yang isinya bisa terlihat dari luar, dan luarnya bisa terlihat dari dalam, yang Allah siapkan bagi orang yang memberi makan, rajin shaum dan shalat malam disaat orang terlelap tidur.” [HR. Ibnu Khuzaimah dan terdapat dalam Shahihul Jami’ no.2123].
·       Shalat dhuha
Dari Abu Darda’ r.a. berkata, “Rasulullah SAW., bersabda:”Barangsiapa shaladhuha dua rakaat, ia akan ditulis sebagai orang yang tidak masuk golongan orang-orang lalai, yang melaksanakan empat rakaat akan ditulis sebagai golongan ahli ibadah, yang melaksanakan enam rakaat akan dicukupkan kebutuhan pada hari itu, dan yang melaksanakan delapan rakaat akan dicatat sebagai orang yang taat, dan melaksanakan 12 rakaat akan dibangun rumah untuknya di jannah.” [HR. Ath Thabrani, dinilai “hasan” oleh Imam al Albani]
·       Meninggalkan debat kusir
Dari Abu Umamah r.a. berkata,”Rasulullah SAW., bersabda,”Aku menjamin sebuah rumah di teras jannah bagi yang meninggalkan debat kusir meskipun dia dalam posisi benar, juga rumah di tengah jannah bagi sesiapa yang meninggalkan kedustaan meski hanya bergurau, dan rumah di puncak jannah bagi yang baik akhlaknya.” [HR. Abu Daud, Shahihul Jami’ no. 1464].
·       Berdoa saat masuk pasar
Dari Ibnu Umar r.a, berkata,”Rasulullah SAW., bersabda,”Barangsiapa yang masuk pasar lalu mengucapkan,”laailaha illallah wahdahu la syarika lahu, lahul mulku walahul hamdu yuhyi wayumitu wahuwa hayun la yamutu biyadihil khoiru wahua ‘ala kulli syaiin qadir, akan ditulis baginya beribu-ribu kebaikan, dihapuskan darinya beribu-ribu kesalahan, diangkat derajatnya menjadi beribu-ribu derajat dan dibangun untuknya rumah di Jannah.” (Shahihul Jami’ no.6231).
·       Silaturahim dan menengok yang sakit
Dari Abu Hurairah r.a. berkata, Rasulullah SAW., bersabda,”Barangsiapa menengok orang sakit akan ada yang memanggil dari langit,”Engkau telah berbuat baik dan langkahmu telah benar, engkau juga berhak atas sebuah rumah di Jannah.” [HR. Ath Tirmidzi, Abu Daud, Ibnu Majah]
·       Berdoa ketika tertimpa musibah
Dari Abu Musa r.a, Rasulullah SAW., bersabda,” Jika ada anak kecil putra seorang hamba meninggal, Allah akan berfirman kepada malaikat, “Kalian mengambil ruh putra hamba-Ku.” Mereka mengatakan, “Benar.” Allah berfirman,”Kalian telah mengambil buah hatinya.” Malaikat mengatakan,”Benar.” Allah berfirman,”Apa yang diucapkan hamba-Ku?” Malaikat mengatakan, “Ia memujimu dan membaca istirja’ (inna lillah wainna ilaih raji’un).” Allah berfirman,”Bangunlah sebuah rumah untuk hamba-Ku itu di Jannah dan namai rumah itu dengan Baitul Hamdi.”  [HR. At Tirmidzi, dinilai “hasan” oleh Imam al Albani dalam as Silsilah ash Shahihah 1408]

Sumber :
Majalah Islam ar-risalah edisi 116